Di sebuah lingkungan yang asri, di tengah rutinitas yang padat, ada seorang wanita yang mengubah cara pandang orang-orang di sekitarnya tentang sampah. Kisah ini bermula dari kebiasaan sederhana, namun penuh makna, yang akhirnya menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama.
Suatu hari, salah seorang pengurus bank sampah di lingkungannya menceritakan kisah menarik. Dulu, beliau merasa heran dan bahkan mengejek kebiasaan si Ibu ini. Setiap kali mereka bertemu, beliau selalu melihat si Ibu mengumpulkan sampah-sampah plastik seperti botol, gelas, kardus, dan lain-lain di acara-acara RW dan resepsi pernikahan. Meski sering melihatnya, beliau merasa bahwa pekerjaan tersebut tidak pantas dan tidak “terhormat”. Di dalam hati, beliau sering berpikir, “Kenapa sih, Bu, harus melakukan pekerjaan seperti itu? Tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik?”
Namun, seiring waktu, pandangannya mulai berubah. Ternyata, kebiasaan mengumpulkan sampah yang dianggapnya sepele ini, menyimpan manfaat yang sangat besar, baik untuk lingkungan maupun diri pribadi. Beliau bahkan mengatakan, “Dulu saya selalu mengejek ibu, tapi sekarang malah saya yang mengikuti jejak ibu.” Sekarang, beliau pun tak hanya mengumpulkan sampah-sampah anorganik ketika keliling sebagai kader Jumantik, tetapi juga mengajak anak-anak di pengajian untuk membawa sampah sebagai “bayaran” mereka. Pengumpulan sampah pun menjadi kegiatan yang dilakukan dengan penuh semangat, dan hasilnya? Tabungan beliau di bank sampah pun menjadi salah satu yang terbanyak.
Lebih dari itu, beliau juga berhasil memanfaatkan hasil jerih payahnya dalam mengumpulkan sampah. Setiap kali ada keperluan mendesak, tabungan tersebut menjadi penyelamat. Ini adalah bukti nyata bahwa setiap usaha, sekecil apapun itu, akan memberikan hasil yang luar biasa jika dikelola dengan baik. Pengalaman ini mengubah pandangan beliau, dan membuka mata akan potensi yang ada dalam mengelola sampah dengan cara yang lebih positif.
Selain mengumpulkan sampah anorganik, Ibu ini juga menciptakan produk-produk unik dari bungkus kopi saset yang sering ia temui. Dengan kreativitas tinggi, ia mengubahnya menjadi berbagai macam produk yang bernilai jual, seperti tatakan gelas, gantungan kunci, tempat tisu, tas, sajadah, taplak meja, dan bahkan tikar. Saking sibuknya dengan aktivitas tersebut, ia tidak sempat meluangkan waktu khusus untuk membuat produk. Namun, ia menemukan cara jitu untuk mensiasati waktu: ia selalu membawa bungkus kopi dalam tasnya, melipatnya di sela-sela kegiatan sehari-hari, bahkan saat di perjalanan. Ketika sedang boncengan dengan suami, dalam kereta, atau di tempat-tempat umum, ia tetap melipat bungkus kopi.
Suatu kali, di kereta, ada mahasiswa dari Universitas Sahid yang meminta nomor WhatsApp-nya. Begitu juga di TJ, ada ibu-ibu yang tertarik untuk membeli tikar buatan tangan Ibu ini. Keahlian dan kreativitasnya tak hanya menginspirasi, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang bermanfaat. Kini, tidak hanya sampah yang diubah menjadi barang berguna, tetapi kebiasaan mengumpulkan sampah pun telah menumbuhkan kesadaran lingkungan yang lebih luas di kalangan masyarakat sekitar.