PT AMS – Aktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Depok, Jawa Barat, Minggu (1/7/2025).
TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Cipayung merupakan satu-satunya lokasi pembuangan sampah akhir untuk seluruh wilayah Kota Depok. Dengan luas sekitar 9,5 hektar (setara dengan 18,25 hektar lahan operasional), TPA ini menerima timbulan sampah dari 11 kecamatan, pasar, dan lokasi lainnya setiap harinya.
Setiap hari, sekitar 250 ritase truk membuang sampah ke TPA Cipayung, dengan volume per truk sekitar 6 meter kubik atau setara 2,5 ton. Ini berarti, dalam satu hari, TPA Cipayung menerima lebih dari 1.200 ton sampah—jumlah yang sangat besar dan terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas penduduk.
Meski idealnya hanya 15% sampah residu yang seharusnya masuk ke TPA, kenyataannya sebagian besar sampah rumah tangga masih tercampur antara organik, anorganik, dan residu. Ini menjadi tantangan besar dalam pengelolaan yang berkelanjutan.
Untuk menangani volume tersebut, TPA Cipayung saat ini mengoperasikan:
11 alat berat, terdiri dari 7 excavator, 3 dozer, dan 1 loader.
53 tenaga kerja, yang setiap hari bertugas menata dan mengelola sampah agar tidak berserakan.
Namun, hingga saat ini, pengelolaan di TPA masih terbatas pada aktivitas pemindahan dan penataan sampah. Upaya pengelolaan secara sistematis, seperti cover soil dan sanitary landfill yang pernah menjadikan TPA Cipayung sebagai percontohan nasional, kini tidak lagi aktif berjalan.
Tantangan: Bau dan Dampaknya bagi Warga
Bau menjadi keluhan utama warga sekitar, terutama saat aktivitas operasional TPA selesai pada sore hari. Untuk mengatasi hal ini, pihak pengelola menggunakan bubuk zeolite untuk menekan penyebaran bau. Setiap hari, sekitar 10 karung zeolite disebar di area dumping, terutama setelah hujan turun, yang dapat memperburuk bau. Menariknya, radius bau justru lebih terasa di area 3–5 km dibanding area terdekat, akibat arah angin dan proses penguapan gas dari sampah.
Air & Kesehatan Lingkungan Berdasarkan pemantauan, air sumur warga di radius 100 meter dari TPA masih tergolong aman untuk digunakan. Namun, untuk mengurangi potensi pencemaran di masa depan, pihak TPA bekerja sama dengan PDAM untuk menyediakan jalur air bersih bagi warga sekitar.
Solusi Jangka Panjang: RDF & Pengolahan Organik
Salah satu rencana strategis adalah pembangunan RDF (Refuse-Derived Fuel), yaitu pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif. Pemerintah Kota Depok telah menyediakan lahan seluas 1,8 hektar, namun implementasinya masih menunggu realisasi dari Kementerian PUPR, yang mengatur dari sisi teknis, perencanaan, dan pendanaan. Target awal RDF adalah memproses 900 ton sampah/hari, namun kini proyeksi menurun menjadi 300 ton/hari.
Selain itu, Kota Depok juga memiliki sistem UPS (Unit Pengolahan Sampah) yang menangani sampah organik dari masyarakat, dengan proses pencacahan dan pengomposan langsung dari rumah warga. Meskipun skala UPS belum menyerap seluruh volume, upaya ini sangat membantu mengurangi tekanan ke TPA.
Peran Bank Sampah dan Pemulung
Kehadiran bank sampah di wilayah Depok sangat membantu dalam mengurangi sampah yang masuk ke TPA, khususnya sampah anorganik. Di sisi lain, banyak pemulung juga menggantungkan hidup dari memilah langsung sampah di area TPA.
Kesimpulan & Harapan
Saat ini, TPA Cipayung masih berstatus TPA terbuka dan belum memiliki lahan pengganti. Tanpa kajian kapasitas jangka panjang dan tanpa sistem pengelolaan terpadu, masa depan TPA berada dalam kondisi rawan.
Seperti disampaikan oleh pihak pengelola:
“Saat ini, seluruh kota di Indonesia telah mendapat surat peringatan dari pemerintah pusat terkait pengelolaan TPA. Sudah saatnya kita semua ikut bergerak.”
TPA seharusnya menjadi tempat akhir hanya untuk residu—bukan keseluruhan sampah. Oleh karena itu, peran masyarakat dalam memilah, mengurangi, dan mengelola sampah dari sumbernya adalah kunci dari solusi jangka panjang.
